Cara Lindungi Data dari Ransomware Backup

Cara Lindungi Data dari Ransomware Backup

Cara Lindungi Data dari Ransomware Backup

Cara Lindungi Data dari Ransomware Backup – Pandemi COVID-19 membuat banyak karyawan yang awalnya bekerja di kantor dan hanya mengakses informasi kritikal perusahaan dari jaringan internet yang terlindung di dalam perimeter, beralih ke rumah.

Seperti yang telah disebutkan, karyawan yang kini bekerja dari rumah, mengakses sistem kritikal perusahaan lewat jaringan internet yang notabene lebih rentan dari serangan security.

Sistem manajemen antivirus tradisional dirancang untuk berjalan di dalam lingkungan internet dan sekali komputer yang dilindungi berada di luar jaringan internet.

Administrator akan kesulitan untuk memonitor komputer tersebut dengan baik.

Perlindungan data dari ransomware pun harus ekstra dilakukan

Memang betul, bisa saja komputer tersebut diatur untuk melindungi diri secara mandiri dan mengupdate definisi antivirus secara otomatis.

Namun, kurangnya kontrol dan monitoring realtime dapat menjadikan komputer tersebut menjadi trojan ketika terhubung kembali ke jaringan intranet perusahaan.

Karena itu, administrator harus ekstra hati-hati memberikan akses sistem dan database perusahaan kepada komputer dari luar jaringan intranet.

Terapkan pengamanan dengan baik seperti hanya menggunakan Virtual Private Network (VPN) untuk akses sistem kritikal perusahaan.

Implementasikan sekuriti bertingkat seperti mencegah bruteforce password atau menerapkan Two Factor Authentication (TFA) jika ingin mengakses jaringan perusahaan.

Ransomware

Menilik ancaman malware di paruh pertama 2020, tidak dapat dipungkiri bahwa ransomware sudah menjadi ancaman nyata dan mematikan bagi korbannya saat ini.

Dan ancaman ransomware ini juga berevolusi mengikuti perkembangan dimana jika pada awalnya ransomware hanya menyebarkan diri melalui lampiran email.

Kini menggunakan metode lain seperti menumpang aplikasi crack yang sering digunakan untuk membajak program populer.

Atau untuk menginfeksi melalui jaringan adware dan trojan yang cukup dengan mengunjungi situs yang sudah terkontaminasi trojan atau adware, dapat menjadi korban ransomware.

Saat ini, ransomware mengincar server database, karena pembuat ransomware rupanya belajar dari pengalaman bahwa server database lebih memiliki data bernilai ekonomis tinggi dan korbannya lebih banyak yang bersedia membayar uang tebusan dibandingkan pengguna komputer biasa.

Kabar buruknya, metode dan teknologi enkripsi yang digunakan oleh ransomware untuk mengenkripsi data makin hari makin mencapai kematangan.

Comments are closed.