Bagaimana Internet Mengubah Mereka

Bagaimana Internet Mengubah Mereka

Bagaimana Internet Mengubah Mereka

Bagaimana Internet Mengubah Mereka – Konsep soal ekstraversi dan introversi dalam psikologi sudah ada hampir 100 tahun sejak pertama kali dicetuskan. Adalah Carl Gustav Jung, psikiater Swiss yang pertama kali menulis soal ini dalam bukunya, Psychologische Typen.

Pendekatan Jung terhadap psikologi tidak hanya berangkat dari pengetahuannya terhadap psikologi itu sendiri, namun banyak dipengaruhi pada pemahaman psyche, melalui dunia mimpi, seni, mitologi, agama dan filsafat.

Jung tidak hanya meneliti bidang psikologi, namun juga banyak mengeksplorasi bidang lain seperti filsafat, alkimia, sosiologi, sastra dan juga seni. Dari sini, kita tahu bahwa konsep pengelompokan kepribadian ini tidak datang secara sederhana, tetapi secara luas dianalisis melalui banyak sudut pandang keilmuan.

Lahirlah konsep ekstraversi dan introversi.

Konsep ini adalah pengelompokan kepribadian manusia berdasarkan bagaimana manusia itu memperoleh gairahnya. Gairah yang dimaksud di sini adalah energi atau semangat dalam diri yang berkaitan dengan mental dan terkadang juga fisik.

Perbedaan antara pribadi ekstrover dan introver sangat berfokus pada bagaimana mereka merespon interaksi sosial. Pribadi ekstrover akan lebih mendapatkan gairah ketika melakukan interaksi sosial, sedangkan introver lebih menyukai menyendiri. Introver akan mendapatkan gairah ketika dia melakukan aktivitas sendiri, yang tidak melibatkan interaksi dengan banyak orang.

Menarik membahas soal sifat introver itu. Dibandingkan ekstrover, introver sering disalah artikan. Diartikan sebagai pemalu misalnya. Padahal tidak demikian. Ini soal “zona nyaman” saja. Dalam keadaan apa seseorang bisa mengeluarkan yang terbaik dari dirinya. Mari fokus pada sifat introver, karena menarik membahas mereka terlebih di era virtual seperti sekarang ini.

Menggerakkan seorang introver adalah lingkungan internalnya

Mudah sekali memahami apa yang menggerakkan seorang ekstrover. Sifat ekstrover dianggap sangat wajar dan dominan. Bahkan banyak orang tua menganggap, kepribadian ekstrover adalah kepribadian normal yang seharusnya dimiliki seorang anak agar mudah mendapat teman. Makanya tak jarang, orang tua sering memberi nasihat kepada anaknya untuk banyak bergaul, jangan di rumah terus, perbanyak teman, dll.

Bagaimana dengan introver? Yang menggerakkan seorang introver adalah lingkungan internalnya, bagaimana dia merefleksi dirinya sendiri, berpikir dan menganalisis kondisi melalui faktor internal dan wawasan dalam diri. Hal-hal ini membutuhkan keadaan lingkungan yang tertutup agar seorang introver bisa leluasa melakukan aktivitas tadi itu.

Inilah yang sering disalah pahami. Faktor penggerak seorang introver terlihat sangat kontra-intuitif. Intuisi yang muncul dengan mengetahui fakta bahwa manusia adalah makhluk sosial, dan karenanya membutuhkan interaksi sosial dalam kehidupannya, berbenturan dengan perilaku yang dilakukan introver ini.

Setidaknya itulah pandangan yang terjadi. Padahal sebenarnya itu sepenuhnya salah. Terlihat kontra-intuitif saja, namun sebenarnya sangat bisa dimengerti dan masuk akal.

Sifat introver tidak menihilkan makna bahwa manusia adalah makhluk sosial hanya karena mereka tidak digerakkan oleh interaksi sosial. Introver tetap melakukan interaksi sosial. Hanya saja, interaksi tersebut bukan menjadi faktor penggerak mereka.

Frekuensi mereka bertemu dan berkenalan dengan orang-orang baru cenderung sedikit. Hal ini disebabkan karena seorang introver akan merasa kurang nyaman jika terlalu banyak berinteraksi dengan orang lain. Berinteraksi membutuhkan energi.

Di dalam interaksi tersebut, ada komunikasi  verbal dan non-verbal , interaksi fisik, dll. Hal inilah yang tidak diprioritaskan oleh seorang introver. Meskipun demikian, introver tetap dapat menjalin interaksi sosial dengan orang-orang yang dekat dengannya, seperti teman dekat. Introver lebih memilih interaksi 1on 1 dengan orang yang dikenalnya.

Comments are closed.